Yuk Deteksi Dini Kanker Payudara dengan “SADARI”

Yuk Deteksi Dini Kanker Payudara dengan “SADARI”

Penulis : Wanda Pebriana

Source : https://sukabumiupdate.com/

Kanker payudara merupakan kanker yang paling ditakuti perempuan. Kanker ini menjadi kanker dengan kasus tertinggi di dunia. Berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) pada tahun 2020, terdapat 2,3 juta wanita yang terdiagnosis kanker payudara dan 685,000 kematian secara global. (WHO 2021). Data Global cancer statistics (GLOBOCAN) pada tahun 2020, Kanker payudara di Indonesia mencapai 68.858 kasus baru dengan 22 ribu kasus kematian.2

Kanker payudara adalah keganasan yang bersumber dari jaringan penunjang payudara, saluran kelenjar dan sel kelenjar. Kanker payudara umumnya menyerang wanita berusia di atas  40 tahun, namun wanita muda pun bisa terserang jenis kanker ini. Kanker payudara menjadi penyakit paling ditakuti oleh wanita, meskipun kanker ini juga bisa terjadi pada pria.4

Faktor risiko yang  berkaitan terhadap peningkatan kasus kanker payudara, yakni riwayat keluarga dan genetik,  jenis kelamin perempuan, riwayat radiasi dinding dada, usia > 50 tahun, dan  riwayat menstruasi dini (< 12 tahun) atau menarche lambat (>55 tahun).  Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah perkembangan kanker payudara, adalah dengan melakukan deteksi dini berupa skrining terhadap kanker payudara. Skrining kanker payudara merupakan  pemeriksaan yang dilakukan untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang  yang tidak memiliki gejala. Gejala kanker payudara, antara lain adanya benjolan abnormal disekitar payudara, terjadi retraksi puting, kelainan kulit disekitar payudara, benjolan ketiak dan edema lengan, serta  nyeri tulang (vertebra, femur).3

Skrining kanker payudara dapat dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) . Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) bisa dilakukan pada wanita setelah berusia 20 tahun. Pemeriksaan ini paling tepat dilakukan pada hari ke 5-7 setelah menstruasi, dimana payudara tidak membesar , mengeras, atau tidak nyeri lagi. Untuk wanita yang telah menopause “SADARI” dapat dilakukan kapanpun dan disarankan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap awal atau akhir bulan. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: 4

1. Melihat payudara

Pemeriksaan ini dilakukan di depan cermin. Adapun hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan ini, yaitu kesimetrisan bentuk dan ukuran payudara kanan dan kiri, warna kulit di area payudara, penebalan kulit di area payudara, posisi putting, serta permukaan kulit di area payudara. 4

2. Memijat payudara

Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan  kedua tangan, kemudian pijat payudara dengan lembut dari tepi ke arah puting.  Perhatikan apakah ada cairan atau darah yang keluar dari puting susu.4

3. Meraba payudara

Pemeriksaan ini dilakukan dengan tiga tingkat tekanan, yaitu: tekanan ringan untuk memeriksa adanya benjolan di permukaan kulit, tekanan sedang untuk memeriksa adanya benjolan di tengah jaringan payudara dan tekanan kuat untuk memeriksa  benjolan di dasar payudara yang melekat pada tulang iga.4

Source : www.icc.id

Tujuan dilakukan pemeriksaan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), yakni untuk mengetahui apakah payudara dara dalam keadaan normal atau tidak, dengan mengamati bentuk, ukuran, kesimetrisan, putting  dan kondisi kulit di area payudara.1

 

Referensi:

  1. IARC . 2022. Breast Cancer / Breast Self-Examination (BSE). Acces on May 27 2022. Available at : https://screening.iarc.fr/breastselfexamination.php.
  2. Kementerian Kesehatan Ri. 2022. Kanker Payudara Paling Banyak di Indonesia, Kemenkes Targetkan Pemerataan Layanan Kesehatan. Biro Komunikasi & Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI.
  3. Komite Penanggulangan Kanker Nasional.2014.  Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  4. Patologi Anatomi. PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI). 2016. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
  5. Pratiwi, dkk. 2017. Gambaran Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kecemasan Pasien Kanker Payudara dalam Menjalani Kemoterapi. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia. 2017;3(2):167–174