Berbagai cara pemeriksaan telah dipakai untuk pemeriksaan deteksi dini kanker payudara, yaitu: Pemeriksaan fisik oleh tenaga kesehatan (dokter bedah, dokter umum, perawat terlatih) yang disebut Clinical Breast Examination (CBE) atau pemeriksaan oleh pesertanya sendiri (SADARI), Pemeriksaan imaging / radiologi seperti : Mamografi, Ultrasonografi, MRI, dan pemeriksaan petanda tumor dari serum.

sadari

Pemeriksaan klinis payudara (CBE) tidak mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi, yaitu hanya sekitar 40-50%. Meskipun cara SADARI murah, aman, dan sederhana serta dapat diulang, penggunaan tes ini dalam program screening masih belum efektif. CBE dan SADARI dipakai sebagai bagian dari program deteksi dini kanker payudara. Systematic review menyatakan tidak ada manfaat BSE atau CBE dan tidak direkomendasikan untuk screening kanker payudara.

Mamografi adalah pemeriksaan radiodiagnostik khusus dengan mempergunakan tehnik foto jaringan lunak pada payudara. Pemeriksaan ini dipergunakan secara luas pada program screening kanker payudara karena memiliki sensitifikas dan spesifisitas yang tinggi, yaitu sekitar 80-90%. Beberapa RCT menunjukkan bahwa screening mamografi setiap 1 atau 2 tahun telah dapat menurunkan angka kematian secara bermakna (20-30% bahkan ada yang melaporka lebih besar lagi). Screening mammografi sampai saat ini dipakai untuk wanita 50 tahun keatas. Penggunaan screening mammografi pada wanita kelompok umur 40-49 tahun masih kontroversi. Meta analisis dari delapan RCT screening mamografi pada umur 50-74 tahun menunjukkan relative risk dari kematian kanker payudara 0.77, dengan NNS 543 orang setelah 10 tahun program screening mamografi. Dilain pihak beberapa studi screening mamografi pada wanita usia 40-49 tahun, belum terlihat ada pengaruhnya terhadap penurunan mortalitas secara bermakna, dan dari segi pembiayaan lima kali lipat lebih mahal dari pada screening pada umur diatas 50 tahun, dengan efektifitas yang hanya 20%.

Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan sensitifitas screening mamografi seperti densitas payudara tinggi yang berhubungan dengan umur dan status hormonal, dan interpretasi dari ahli radiologinya sendiri. Dengan semakin baiknya tehnik / kualitas mammografi diharapkan hasil screening pada wanita yang lebih muda (40-49 tahun) akan memberikan hasil yang sama dengan wanita 50 tahun keatas.

Breast-Cancer-Supporter

ACS merekomendasikan pada populasi yang mempunyai risiko tinggi untuk melakukan screening yang lebih dini, screening yang lebih sering, dan dibantu dengan modalitas lain seperti MRI. Namun sangat sedikit data yang mendukung hal tersebut. Screening mamografi tampaknya kurang sensitif pada wanita dengan BRCA1 atau BRCA2 mutasi, oleh karena kelompok wanita ini cenderung pada umur muda. MRI mempunyai sensitifitas yang lebih tinggi daripada mamografi, oleh karena itu dapat dipakai mendeteksi kanker payudara pada wanita yang lebih muda dan mempunyai risiko tinggi terhadap kanker payudara.

Rekomendasi dari “American Cancer Society” mengenai screening dari kanker payudara adalah sebagai berikut :

  1. Wanita umur 20 keatas harus melakukan SADARI secara teratur dan benar.
  2. Wanita umur 20-39 tahun harus menjalani pemeriksaan fisik payudara setiap tiga tahun sekali.
  3. Wanita umur 40 tahun keatas harus menjalani pemeriksaan fisik payudara setiap tahun sekali.
  4. Wanita umur 35-40 tahun harus pernah menjalani mamografi satu kali sebagai data dasar.
  5. Wanita umur 40-49 tahun harus menjalani mamografi setiap 2-3 tahun
  6. Wanita umur 50 tahun keatas harus menjalani mamografi setiap tahun.
  7. Wanita dengan risiko tinggi (riwayat pribadi atau keluarga langsung dengan kanker payudara) harus selalu berkonsultasi dengan dokter tentang perlunya dilakukan mamografi secara lebih sering.
0