Edisi Oktober 2017

Staff Penelitian
KOMPAK FK UNUD

Kanker nasofaring adalah salah satu jenis kanker yang menyerang rongga di antara saluran pernafasan dan rongga hidung. Kanker Nasofaring merupakan keganasan yang jarang terjadi, yaitu 1 dari 100.000 orang setiap tahunnya. Namun bagi populasi China, Asia Tenggara dan Afrika Utara, tingkat kejadian kanker nasofaring lebih tinggi (Demers, 1995). Kanker nasofaring merupakan keganasan yang paling sering dijumpai diantara keganasan telinga, hidung, tenggorok lainnya di Indonesia, serta termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi (Ariwibowo, 2013). Berdasarkan data registrasi kanker di Indonesia tahun 2003, kanker nasofaring menempati urutan pertama dari semua tumor ganas primer pada pria dan di urutan ke 8 pada wanita (Yenita, 2012).

Menurut Studi yang dilakukan oleh Parkin, ternyata prevalensi kanker nasofaring pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, dengan perbandingan 2-3:1 (Parkin dkk., 1997). Berdasarkan beberapa studi preklinik pada hewan, ditemukan bahwa hormon seksual, androgen, dapat menimbulkan perubahan pada sel kanker dan mendorong terjadinya pembentukan tumor (Gucalp, 2010). Pada Uji Kloning yang dilakukan Maasberg, testosteron terbukti dapat meningkatkan proliferasi sel yang dapat menyebabkan pertumbuhan tumor, namun sebaliknya, hormon seksual pada wanita, esterogen, tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tumor (Masberg dkk., 1989).

Selain perbedaan tingkat insiden kanker nasofaring pada pria dan wanita, terdapat pula perbedaan prognosis pasien kanker nasofaring pada pria dan wanita (Yu, 2002). Berdasarkan penelitian Guangli Xiao, pasien pria penderita kanker nasofaring lebih tinggi kemungkinannya mengalami metastasis yang lebih jauh dan 20% tingkat bertahan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien kanker nasofaring wanita pada usia yang sama (Xiao, 2013). Namun seiring pertambahan usia pasien, terjadi penurunan perbedaan tingkat bertahan hidup pasien pria dan wanita. Hal ini menunjukan bahwa semakin muda usia pria mengidap kanker nasofaring, maka semakin buruk prognosisnya.

Perbedaan insiden dan prognosis kanker nasofaring pada pria dan wanita ini selain hormonal, dipengaruhi juga oleh genetika pasien. Nasr menemukan bahwa pria membawa genotipe VEGF-2578 yang menyebabkan pria memiliki resiko lebih tinggi terpapar kanker nasofaring, memiliki ukuran tumor yang lebih besar dan tahap kanker yang lebih lanjut dibandingkan dengan wanita (Nasr, 2008).

Perbedaan kebiasaan antara pria dan wanita pula menyebabkan perbedaan yang signifikan pada insiden kanker nasofaring. Gaya hidup yang buruk seperti kebiasaan merokok dan terpapar faktor lingkungan yang tidak sehat seperti polusi, asap ataupun paparan senyawa kimia pada pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pria dapat diindikasikan sebagai penyebab tingginya prevalensi kanker nasofaring pada pria dibandingkan dengan wanita. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan resiko kanker 2 hingga 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tidak merokok. Begitu juga dengan paparan asap dan zat kimia seperti formaldehid dan abu kayu (Yu, 2002). Paparan asap hasil kayu bakar lebih dari 10 tahun meningkatkan 6 kali lipat terkena kanker nasofaring (Ondrey, 2003).

Selain gaya hidup yang buruk, terdapat faktor risiko lainnya yang tak kalah signifikan yaitu faktor menu makanan yang dikonsumsi. Kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan yang diawetkan, seperti ikan asin, telur asin dan makanan yang difermentasi seperti fermentasi telur dan kacang mempunyai risiko terhadap kanker yang lebih besar. Hal ini disebabkan makanan tersebut mengandung zat karsinogenik nitrosamine, genotoksik dan senyawa yang dapat mengaktivasi Virus Epstein-Barr yang dapat menyebabkan terbentuknya kanker nasofaring (Yu, 2002).

Jadi sebagai populasi Asia Tenggara yang tingkat kejadian kanker nasofaring lebih tinggi, haruslah waspada, baik pria maupun wanita, namun terutama pada pria karena prevalensi insiden kanker nasofaring lebih tinggi, dan tetap melakukan gaya hidup yang sehat serta menjauhkan diri dari faktor – faktor risiko kanker nasofaring.

Sekian, semoga bermanfaat..

 

Sumber :
Ariwibowo H. 2013. Faktor Risiko Karsinoma Nasofaring. Cermin Dunia Kedokteran. 4(5).

Demers PA, Boffetta P, Kogevinas M, Blair A, Miller BA, Robinson CF, Roscoe RJ, Winter PD, Colin D, Matos E, Vainio H. 1995. Pooled reanalysis of cancer mortality among five cohorts of workers in wood-related industries. Scand J Work Environ Health. 21:179–190

Gucalp A, Traina TA. 2010. Triple-negative breast cancer: role of the androgen receptor. Cancer J. 16: 62-65

Maasberg M, Jaques G, Rotsch M, Enderle-Schmidt U, Weehle R, Havemann K. 1989. Androgen receptors, androgen dependent proliferation, and 5-reductase activity of small cell lung cancer cell lines. Int J Cancer. 43: 685-691.

Nasr HB, Chahed K, Bouaouina N, Chouchane L. 2008. Functional vascular endothelial growth factor −2578 C/A polymorphism in relation to nasopharyngeal carcinoma risk and tumor progression. Clin chim acta int j clin chem. 395 (1–2): 124-129.

Ondrey FG, Wright SK. Neoplasms of the Nasopharynx. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery 16th ed. P 1407-1422.

Parkin DM, Whelan SL, Ferlay J, Raymond L, Young J. 1997. Cancer Incidence In Five Continents. 143(7).
Xiao G, Cao Y, Qiu X, Wang W, Wang Y. 2013. Influence of gender and age on the survival of patients with nasopharyngeal carcinoma. BMC Cancer. 13:226

Yenita A. 2012. Korelasi antara Latent Membrane-Protein-1 Virus Epstein-Barr dengan P53 pada Karsinoma Nasofaring (Penelitian Lanjutan). Jurnal Kesehatan Andalas. 1(1).

Yu MC, Yuan JM. 2002. Epidemiology of nasopharyngeal carcinoma. Cancer Biology. 12: 421-429

0