Kanker kolon atau kanker usus merupakan keganasan atau tumor yang berawal pada usus besar.1 Kanker ini seringkali dikelompokkan dengan kanker rektal menjadi kanker kolorektal yang istilahnya lebih luas dipergunakan. Hal ini karena terdapat banyak kemiripan pada karakteristik kedua jenis keganasan tersebut.2

Kanker kolorektal merupakan kanker dengan jumlah kejadian terbanyak keempat di Indonesia pada tahun 2018.3 Melihat tingginya angka tersebut, tidak mengherankan bahwa terdapat banyak informasi yang beredar terkait keganasan ini. Walaupun begitu, terdapat banyak kesalahpahaman dan mitos terkait kanker kolon yang masih dipercaya secara luas. Informasi yang salah dapat berakibat fatal terhadap pandangan masyarakat yang akhirnya dapat mempengaruhi deteksi dini, pencegahan, dan keberhasilan pengobatan dari keganasan ini. Oleh karena itu, berikut akan dibahas beberapa mitos dan fakta terkait kanker kolon.

  1. Mitos: Kanker kolorektal tidak dapat dicegah

Fakta:

Meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini melalui tes screening seperti kolonoskopi diperkirakan dapat menyelamatkan lebih dari 30.000 nyawa setiap tahunnya. Kolonoskopi dapat mendeteksi dan mengangkat jaringan abnormal pada usus sebelum jaringan tersebut menjadi kanker.

Selain itu, memang terdapat beberapa faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti usia, genetik, dan riwayat keluarga. Akan tetapi, masih banyak cara untuk mengurangi risiko terkena kanker usus seperti diet yang rendah lemak, tinggi serat, banyak mengandung sayur-sayuran dan buah-buahan, berolahraga dan mempertahankan berat badan yang sehat, serta mengurangi atau tidak mengonsumsi alkohol dan rokok.4,5

  1. Mitos: Kanker kolorektal pasti berakibat fatal

Fakta:

Kanker kolorektal dapat disembuhkan apabila dideteksi dari stadium awal. 91% dari pasien dengan keganasan yang belum menyebar ke kelenjar getah bening maupun organ sekitar kolon masih hidup 5 tahun setelah diagnosis.4 Pada tahapan-tahapan selanjutnya, angka ini berkurang secara drastis. Umur, kondisi kesehatan, dan respon kanker terhadap pengobatan berhubungan erat dengan kemungkinan keberhasilan proses penyembuhannya.5

  1. Mitos: Screening hanya perlu dilakukan pada orang yang menunjukkan gejala

Fakta:

Screening penting untuk dilakukan karena kanker kolorektal tahap awal tidak menunjukkan gejala. Pria maupun wanita berumur 45 tahun ke atas perlu melakukan screening secara rutin, terlebih untuk orang-orang dengan risiko lebih tinggi. Penanganan paling efektif dapat dilaksanakan saat keganasan masih berupa polip, yaitu jaringan abnormal yang berpotensi menjadi kanker yang lebih mudah diangkat untuk mencegahnya dari berkembang lebih lanjut. Dengan beginilah, kolonoskopi dan sigmoidoskopi dapat mencegah sejumlah besar kematian.4

  1. Mitos: Kanker kolorektal hanya dapat menyerang pria

Fakta:

Walaupun kanker kolorektal lebih umum pada pria, keganasan ini dapat menyerang baik pria maupun wanita. Bahkan, kanker kolorektal merupakan keganasan dengan angka kejadian tertinggi kelima pada wanita di Indonesia pada tahun 2018, dengan 10.904 kasus.3 Oleh karena itu, ada baiknya bahwa wanita dengan usia 45 tahun ke atas juga melakukan screening untuk kanker kolorektal ini.

  1. Kolonoskopi merupakan prosedur yang sulit dan menyakitkan untuk dilalui dan harus diikuti rawat inap

Fakta:

Kolonoskopi sebenarnya tidak menyakitkan, pasien akan dibius selama prosedur untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Persiapan sebelum melakukan kolonoskopi seringkali ditakuti tetapi membersihkan kotoran dalam usus penting dilakukan agar dokter yang memeriksa dapat mengamati permukaan dalam usus dengan jelas.4Pemeriksaan pada kolonoskopi dilakukan dengan menyisipkan tube yang fleksible dan tipis melalui rektum. Prosedur ini biasanya hanya akan memakan waktu 30 sampai dengan 45 menit, dengan waktu pemulihan sekitar 1 jam. Setelah itu, tidak perlu dilakukan rawat inap dan pasien sudah diperbolehkan untuk pulang.5

Setelah mengetahui fakta-faktanya, dapat lebih terlihat bahwa kanker kolon dapat dicegah, juga disembuhkan. Hanya dengan melakukan perubahan-perubahan kecil dalam gaya hidup, serta melakukan screening secara rutin, anda dapat terhindar dari keganasan ini hampir sepenuhnya.

Referensi:

  1. Crosta P. Colon cancer: Symptoms, treatment, and causes [Internet]. Medicalnewstoday.com. 2020 [cited 30 August 2020]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/150496
  2. Colorectal Cancer – American Cancer Society [Internet]. Cancer.org. 2020 [cited 30 August 2020]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/colon-rectal-cancer.html
  3. World Health Organization. Indonesia Source GLOBOCAN 2018. Int Agency Res Cancer. 2019.
  4. Colon Cancer Myths vs. Reality – American Society of Colon and Rectal Surgeons [Internet]. Fascrs.org. 2020 [cited 30 August 2020]. Available from: https://fascrs.org/patients/diseases-and-conditions/a-z/colon-cancer-myths-vs-reality
  5. 8 Myths about Colorectal Cancer | Premier Health [Internet]. Premierhealth.com. 2020 [cited 30 August 2020]. Available from: https://www.premierhealth.com/your-health/articles/women-wisdom-wellness-/8-myths-about-colorectal-cancer