Konsumsi Kedelai Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Payudara?

Kedelai merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan bijinya. Biji kedelai tersebut sering diolah menjadi makanan dan minuman, salah satunya tahu, tempe dan susu kedelai yang hingga saat ini masih diminati oleh banyak orang. Namun, terlepas dari kelezatan dan kandungan protein yang dimiliki, terdapat isu yang mengelilingi konsumsi kedelai yang berisiko pada kanker payudara. Benarkah demikian?

Kedelai merupakan sumber protein nabati yang memiliki kandungan zat yang bermanfaat bagi tubuh, salah satunya isoflavon. Isoflavon merupakan salah satu jenis fitoestrogen, yaitu reseptor modulator estrogen alami yang memiliki karakteristik yang mirip dengan estrogen dan memiliki sifat anti-estrogenik.(1) Dengan struktur kimiawi yang menyerupai estrogen pada manusia, isoflavon dinilai memiliki mekanisme yang sama dengan estrogen tersebut, namun faktanya, isoflavon umumnya berikatan dengan reseptor estrogen yang memiliki potensi sebagai tumor suppressor. Pada beberapa penelitian lainnya, isoflavon diketahui menjadi gen yang mampu menstimulasi proses apoptosis dan memperlambat pertumbuhan sel kanker. (2)

Pada studi hewan dan sel, dosis isoflavon yang tinggi justru memicu pertumbuhan kanker payudara, namun studi kepada manusia yang mengonsumsi makanan olahan kedelai menunjukkan efek netral dan protektif. Wanita dengan etnis dan latar belakang budaya yang berbeda juga turut memengaruhi persentase efek protektif dari kanker payudara yang ditimbulkan dari kedelai. Hal ini ditunjukkan oleh wanita Asia yang mendapat manfaat protektif dari kedelai lebih banyak dibandingkan wanita di Amerika dan Eropa. Hasil ini dapat terjadi karena terdapat perbedaan jumlah kedelai yang dikonsumsi.(3) Studi lainnya juga menunjukkan adanya efek yang dihasilkan dari isoflavon kedelai pada penyintas kanker payudara di beberapa negara. Wanita yang mengonsumsi isoflavon kedelai yang tinggi memiliki risiko kematian dan kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang mengonsumsi isoflavone lebih sedikit.(4,5)

Di balik kelezatannya, kedelai menawarkan berbagai manfaat bagi tubuh kita. Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah mengonsumsi kedelai!

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Shu XO, Zheng Y, Cai H, Gu K, Chen Z, Zheng W. Soy Food Intake and Breast Cancer Survival. NIH Public Access. Bone. 2011;23(1):1–7.
  2. Collins V. Soy and Cancer: Myth and Misconceptions-AICR Blog. 2019. American Institute for Cancer Research. Available at: https://blog.aicr.org/2019/02/19/soy-and-cancer-myths-and-misconceptions/
  3. Maskarinec G, Ju D, Morimoto Y, Franke AA, Stanczyk FZ. Soy Food Intake and Biomarkers of Breast Cancer Risk: Possible Difference in Asian Women?. Nutrition and Cancer. 2017;69(1):146-53.
  4. Zhang FF, Haslam DE, Terry MB, Knight JA, Andrulis IL, Daly MB. Dietary isoflavone intake and all-cause mortality in breast cancer survivors: The Breat Cancer Family Registry. Cancer. 2017;123(11):2070-2079.
  5. Guha N, Kwan ML, Quesenberry CP, Weltzien EK, Castillo AL, Caan BJ. Soy isoflavones and risk of cancer recurrence in a cohort of breast cancer survivors: the Life After Cancer Epidemiology study. Breast Cancer Research and Treatment. 2009;118(2):395-405.
error0