Merokok atau penggunaan tembakau banyak berkorelasi dengan kanker paru, kanker rongga mulut, tenggorokan. Hal ini juga terbukti adanya perubahan insiden kanker tertentu bagi populasi yang migrasi ke Negara lain dan mengadopsi pola hidup dan makanan di Negara baru ini. Contohnya populasi Jepang yang migrasi ke Amerika, setelah beberapa generasi, mempunyai insiden kanker yang menyerupai pola insiden kanker di Amerika. Bahkan pada beberapa tahun terakhir pola insiden kanker populasi Jepang ini, melebihi angka insiden penduduk asli Amerika. Hal ini mungkin membuktikan adanya genetic susceptibility dari ras/ suku Jepang terhadap paparan karsinogen.

313538_620

Bukti epidemiologis bahwa rokok berhubungan dengan kanker adalah kuat. Insiden kanker meningkat dengan meningkatnya jumlah rokok yang dikonsumsi. Pemakaian tembakau (bukan dirokok) untuk “dikunyah/ nyisip” seperti kebiasaan pada populasi di Negara tertentu (Bali, Jawa, India) berhubungan dengan meningkatnya kanker rongga mulut. Rokok dan alcohol bersama-sama juga meningkatkan kejadian kanker rongga mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung dans ebagainya.

Rokok atau nicotine tidak langsung menyebabkan kanker. Nicotine oleh tubuh akan dimetabolisme menjadi N-nitrosonornicotine (NNN) yang juga dikenal sebagai NNK, yang kemudian dirubah menjadi bahan yang “reaktif “ diazonium ion. Diazonium ion akan berikatan dengan DNA dan mengadduksi DNA. Hal ini menyebabkan kerusakan DNA dan terjadinya kanker.

0