Fakta Kanker Nasofaring

Artikel Edisi Awal Juli 2019

STAFF PENELITIAN KOMPAK FK UNUD

Kanker nasofaring adalah kanker yang berkaitan dengan virus Epstein-Barr (EBV) yang menyerang daerah nasofaring. Beberapa faktor yang dicurigai meningkatkan risiko terjadinya kanker nasofaring antara lain infeksi virus EBV dan faktor lingkungan seperti konsumsi ikan asin yang berlebihan, merokok, dan kurangnya konsumsi sayur dan buah. Kanker ini jarang terjadi, namun cukup endemik pada beberapa daerah seperti Asia Tenggara, China Selatan, Afrika Utara, dan Antartika.1 Di Indonesia sendiri kanker nasofaring merupakan keganasan tersering yang menduduki peringkat empat setelah kanker payudara, serviks, dan paru.2

Kanker nasofaring seringkali susah terdeteksi karena lokasi nasofaring yang tersembunyi secara anatomis. Hal ini menyebabkan kanker nasofaring seringkali baru terdeteksi pada stadium lanjut (III dan IV). Pada stadium lanjut ini biasanya gejala yang telah muncul meliputi benjolan di leher, gangguan saraf, atau metastasis jauh.2 Prognosis kanker nasofaring antara stadium awal dan lanjut memiliki perbedaan yang cukup signifikan.1 Diagnosis stadium awal dari kanker nasofaring cukup sulit karena gejala awal yang tidak spesifik. Oleh karena itu penting untuk mengetahui gejala awal dari kanker nasofaring. Gejala yang biasanya ditemui pertama kali adalah kelainan pada salah satu sisi telinga atau bersifat unilateral. Kelainan ini biasanya umum dijumpai dan bersifat tidak spesifik sehingga sering salah dikenali sebagai kelainan telinga biasa. Beberapa contoh kelainan telinga adalah tinnitus (rasa berdenging pada telinga) karena kelainan pada tuba eustachius, otitis media dengan efusi (infeksi telinga tengah dengan penumpukan cairan), tuli konduktif, dan otalgia (nyeri telinga). Sebagian pasien juga mengalami pembesaran kelenjar limfe leher dan gejala pada hidung seperti mimisan. Gejala lain yang dapat dialami antata lain penyumbatan hidung, nyeri kepala, trismus (keterbatasan pergerakan rahang), kehilangan penglihatan dan/atau adanya massa pada nasofaring atau orofaring. Beberapa gejala tersebut memang belum tentu mengindikasikan kanker nasofaring. Namun memeriksakan diri ke dokter atau melakukan deteksi dini dapat lebih menjamin kesehatan dan harapan hidup seseorang serta meminimalkan risiko terjadinya keterlambatan diagnosis.3,4

Oleh : Staff Penelitian Kompak FK Unud

DAFTAR PUSTAKA :

1. Wu L., Li C., Pan L., Nasopharyngeal carcinoma : A review of current updates. Exp Ther Med. 2018;15(4):3687-3692
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Dokter Kanker Nasofaring. Komite Penanggulangan Kanker Nasional. 2015
3 Adham M., Rohdiana D., Mayangsari I., Musa Z. Delayed diagnosis of nasopharyngeal carcinoma in a patient with early signs of unilateral ear disorder. Med J Indones. 2014;23(1):52-57
4. Domaa A., Gad H. The clinical manifestation of nasopharyngeal cancer in Libya-A comparative study. Middle East Journal of Applied Sciences. 2011;1(1):1-4

error0