Dunia saat ini sedang mengalami suatu krisis akibat pandemi yang mengancam seluruh warganya. Coronavirus merupakan suatu famili virus yang dapat menyebabkan penyakit COVID-19, penyakit yang mampu menyerang jalur pernapasan dan paru-paru.1 Bagi beberapa orang, penyakit ini tidak dapat memberikan efek yang serius, bahkan ada yang tidak memiliki gejala penyakit (asimptomatik). Namun, bagi beberapa kalangan, virus ini dapat memberikan dampak yang lebih serius, salah satunya adalah pasien kanker.4
Hal ini dapat terjadi karena pada beberapa kanker dan jenis perawatannya, seperti melalui kemoterapi dapat menyebabkan kondisi neutropenia atau penurunan sistem kekebalan tubuh pasien. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terpapar infeksi seperti Coronavirus untuk memasuki tubuh pasien dan memberikan efek yang lebih serius pada pasien kanker.2,5 Hal ini juga ditunjang dari hasil penelitian dimana pasien kanker yang menjalani kemoterapi atau operasi dalam kurun waktu sebulan memiliki risiko lebih tinggi (tiga dari empat pasien (75%)) untuk mengalami kondisi klinis yang parah dibandingkan orang yang belum mendapatkan kemoterapi atau operasi (enam dari 14 pasien(43%)).4 Pada studi lainnya, ditemukan bahwa angka kematian pasien kanker sebesar 5,6% yang dimana bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat mortalitas COVID-19 yang diperkirakan yaitu 2,5%.5
Adapun kategori pasien kanker paling rentan berisiko memiliki efek yang serius jika terpapar virus ini yaitu: pasien kanker yang sedang aktif melakukan kemoterapi, radioterapi radikal pada pasien kanker paru, pasien kanker darah atau sumsum tulang belaknag (leukemia, limfoma atau myeloma) di tahap pengobatan mana pun, pasien kanker yang sedang menjalani imunoterapi dan pengobatan antibodi untuk kanker, pasien yang sedang menjalani terapi target pada kanker yang memengaruhi sistem kekebalan imun, seperti protein kinase inhibitor atau PARP inhibitor, serta pasien yang sedang menjalani transplantasi sumsum tulang belakang atau transplantasi sel punca (stem cell) dalam kurun waktu 6 bulan atau sedang mengonsumsi obat imunosupresif. Selain itu, pasien dengan beberapa kondisi penyerta lainnya seperti, orang yang berumur diatas 60 tahun, dan memiliki riwayat penyakit jantung dan pernapasan juga dapat memiliki efek yang lebih berbahaya jika terpapar coronavirus.3
Maka dari itu penting sekali bagi pasien kanker dan kita semua untuk berhati-hati dan membatasi kontak diri terhadap lingkungan luar, melakukan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menggunakan hand sanitizer terstandardisasi, serta hindari menyentuh mata, mulut atau hidung agar nantinya dapat terhindar dari dampak berbahaya COVID-19.

Reference:
1. Cancer Research UK. Coronavirus (COVID-19) and cancer. 2020. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/cancer-in-general/coronavirus-and-cancer/treatment Diakses pada 10 April 2020.
2. National Cancer Institute. Coronavirus: What People with Cancer Should Know. 2020
https://www.cancer.gov/contact/emergency-preparedness/coronavirus Diakses pada 10 April 2020.
3. NHS England. Clinical guide for management of non-coronavirus patients requiring acute treatment: Cancer. 2020. https://www.england.nhs.uk/coronavirus/wp-content/uploads/sites/52/2020/03/specialty-guide-acute-treatment-cancer-23-march-2020.pdf Diakses pada 10 April 2020.
4. Landman A, Feetham L, Stuckey D. Cancer patients in SARS-CoV-2 infection: a nationwide analysis in China. 2020. Lancet; 21(2020): 335-7.
5. Cancer Health. Updated: What People With Cancer Need to Know About the New Coronavirus. https://www.cancerhealth.com/article/people-with-cancer-coronavirus Diakses pada 10 Apri 2020