Fakta Kanker Kulit

Artikel Edisi Awal Mei 2019

STAFF PENELITIAN KOMPAK FK UNUD

Kanker penis merupakan Squamous Cell Carcinoma yang terjadi pada penis.1 Kanker penis memang jarang ditemukan pada negara benua Amerika dan Eropa, namun masih merupakan permasalahan kesehatan penting pada negara-negara berkembang.1,2 Di Indonesia, dalam lima tahun terakhir ditemukan insiden kanker penis sebanyak 2.361 kasus.3 Dari sebuah penelitian ditemukan bahwa di Provinsi Bali prevalensi kanker penis jauh lebih tinggi daripada provinsi lainnya, yang dapat mencapai persentase 40% dari total kasus kanker penis dari seluruh Indonesia. Kanker penis juga merupakan kanker yang paling umum dijumpai di Provinsi Bali.4 Tingginya insiden kanker penis di Bali seringkali dikaitkan dengan rendahnya kebiasaan melakukan sirkumsisi atau sunat pada organ genital pria masyarakat Bali, namun benarkah demikian?

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker penis, antara lain infeksi virus HPV, kurangnya sanitasi lingkungan dan status sosial ekonomi, tidak pernah menikah, phimosis, balanitis, paparan sinar ultraviolet, dan sebagainya.2,5 Virus HPV merupakan penyebab tersering kanker penis; virus ini ditemukan pada basaloid dan warty carcinoma yang meliputi 50% dari kasus yang ada. Sirkumsisi dilaporkan dapat menurunkan banyaknya virus HPV yang tersebar pada penis dan meminimalisir terjadinya infeksi. Pada orang yang belum disunat, daerah yang tertutupi kulit penutup penis merupakan tempat yang lembab dan mendukung perkembangbiakan mikroba penyebab infeksi. Sirkumsisi juga digunakan untuk mengatasi phimosis (ketidakmampuan retraksi kulit penutup penis) dan menurunkan risiko terjadinya lesi prakanker (dysplastic) pada kulit penutup penis yang telah dipotong. Sirkumsisi juga mampu menurunkan kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit seperti smegma, balanitis, dan lichen sclerosis yang kerap dihubungkan dengan meningkatnya risiko terkena kanker penis.5

Oleh : Staff Penelitian Kompak FK Unud

DAFTAR PUSTAKA :

  1. Clark P, Spiess P, Agarwal N, Biagioli M, Eisenberger M, Greenberg R et al. Penile Cancer Clinical Practice Guidelines in Oncology. Journal of the National Comprehensive Cancer Network. 2013;11(5):594-615.
  2. Douglawi A, Masterson T. Updates on the epidemiology and risk factors for penile cancer. Translational Andrology and Urology. 2017;6(5):785-790.
  3. International Agency for Research on Cancer, World Health Organization. Indonesia. The Global Cancer Observatory; 2019 p. 1-2. Available at : http://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf
  4. Lestari D, Armerinayanti N. Increasing trend of penile cancer cases in Bali compared to other regions in Indonesia. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering. 2018;434:012156.
  5. Morris B, Gray R, Castellsague X, Bosch F, Halperin D, Waskett J et al. The Strong Protective Effect of Circumcision against Cancer of the Penis. Advances in Urology. 2011;2011:1-21.

error0