Benarkah Penggunaan Air Fryer Dapat Menyebabkan Kanker?

“Penulis : Felisia”

air-fryer-kompak-fk-unud
Gambar 1.1 Air Fryer

Beberapa waktu belakangan ini, penggunaan air fryer menjadi semakin populer sebagai cara baru untuk memasak makanan. Apa itu air fryer? Air fryer merupakan alat masak modern yang dapat digunakan untuk menggoreng makanan dengan sedikit atau tanpa menggunakan minyak goreng. Penggunaan air fryer ditemukan dapat mereduksi konten lemak dalam makanan sebanyak 90% dibandingkan dengan penggunaan teknik deep frying (teknik menggoreng dengan minyak banyak hingga makanan terendam sepenuhnya). Air fryer bekerja dengan kontak langsung antara makanan dan sirkulasi udara panas di sekitarnya untuk mengurangi kadar air pada makanan dan memberikan efek renyah. Hal ini memberikan efek yang mirip dengan makanan yang digoreng dengan rendaman minyak, tetapi dalam cara yang lebih rendah lemak dan rendah kalori.[1] Keuntungan air fryer ini pula yang menarik perhatian masyarakat untuk menggunakannya. 

acrylamide-kompak-fk-udayana
Gambar 1.2 Senyawa Acrylamide

Apabila kita melihat alat dari air fryer, umumnya akan terdapat dua tombol untuk mengatur suhu dan waktu dari masakan. Penggorengan dengan air fryer biasanya menggunakan suhu sekitar 160°C-200°C. Penggunaan suhu yang tinggi ini menyebabkan timbulnya kontroversi yang menyebutkan bahwa air fryer menyebabkan kanker, terutama akibat reaksi Maillard yang menghasilkan akrilamida. Akrilamida adalah produk dari reaksi antara asam amino aspargin dan turunan gula (glukosa, fruktosa, dan lain-lain) yang terbentuk saat makanan dipaparkan dengan suhu di atas 120°C saat proses masak seperti penggorengan dan pemanggangan. Penelitian oleh Anto (2020) yang melakukan penggorengan menggunakan kentang mengungkapkan bahwa semakin tinggi suhu yang digunakan untuk menggoreng dan semakin kering konten air pada kentang akan meningkatkan risiko terbentuknya senyawa akrilamida.[3] Lalu, bagaimana dengan penggorengan dengan air fryer? Ternyata, meskipun menggunakan suhu penggorengan yang sama, penelitian yang dilakukan oleh M. Sansano, dkk. pada tahun 2015 menunjukkan bahwa reaksi Maillard lebih cepat terjadi pada proses deep-frying dibandingkan dengan air-frying karena perbedaan kedua teknologi dalam hal kinetik perpindahan massa dan panas. Bahkan, penggunaan air fryer mengurangi terbentuknya senyawa akrilamida sebanyak 77%.[1]

Meskipun demikian, risiko terbentuknya senyawa akrilamida sebagai agen penyebab kanker tetap ada, terutama jika penggorengan dilakukan dengan suhu tinggi, waktu yang lama, dan berulang kali. Namun, teknik menggoreng dengan air fryer masih dapat diterapkan dalam kebiasaan memasak sehari-hari dengan memperhatikan suhu, durasi, dan frekuensi memasak. Selain itu, ada beberapa penggunaan teknik memasak lain yang diperlukan dalam diet sehari-hari untuk mencapai kesehatan yang optimal.[2] Contoh metode lain yang bisa digunakan dalam memasak adalah merebus, mengukus, menumis, memanggang, dan lain-lainnya. Metode memasak akan memengaruhi komponen gizi dan antioksidan dalam makanan yang dikonsumsi. Berdasarkan data dari penelitian yang dilakukan Irene, dkk., penggorengan makanan dengan metode deep frying dapat meningkatkan kadar lemak dan kalori, sedangkan metode pemanggangan dapat meningkatkan antioksidan.[4] Oleh karena itu, teknik dalam memasak perlu dipertimbangkan agar kebutuhan sehari-hari tercukupi.  

Referensi

1. Sansano M, Juan‐Borrás M, Escriche I, Andrés A, Heredia A. Effect of pretreatments and air‐frying, a novel technology, on acrylamide generation in fried potatoes. Journal of food science. 2015 May;80(5):T1120-8.

2. Ryan A. Are air fryers healthy? Benefits and risks [Internet]. Medicalnewstoday.com. 2019 [cited 5 October 2021]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/324849#how-do-air-fryers-work

3. Yang Y, Achaerandio I, Pujolà M. Influence of the frying process and potato cultivar on acrylamide formation in French fries. Food control. 2016 Apr 1;62:216-23.

4. Roncero-Ramos I, Mendiola-Lanao M, Pérez-Clavijo M, Delgado-Andrade C. Effect of different cooking methods on nutritional value and antioxidant activity of cultivated mushrooms. International journal of food sciences and nutrition. 2017 Apr 3;68(3):287-97.