Di Indonbigstock_young_woman_applying_deodorant_5379938esia, kanker payudara merupakan kanker tertinggi pravelensinya pada perempuan setelah kanker leher rahim. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit, kasus rawat inap kanker payudara sebesar 12.014 kasus (28.7%) dan disusul kanker  serviks  dan  leukemia. Berbabagi macam faktor risiko penyebab terjadinya kasus kanker payudara. Salah satunya, masalah penggunaan deodorant yang dapat menyebabkan kanker payudara.

Kita ketahui bahwa deodorant atau antiperspirant sudah banyak digunakan oleh masyarakat di dunia, termasuk masyarakat Indonesia, dimana fungsi dari deodorant adalah untuk mengurangi keluarnya keringat sehingga dapat mengurangi bau badan. Nah akhir-akhir ini banyak artikel-artikel di Internet yang menyatakan bahwa penggunaan deodorant dapat menyebabkan kanker payudara.

Apakah ini MITOS atau FAKTA ya? Yuk kita cari tahu lagiii,

Nah, sebelumnya kita perlu tahu apa sih kandungan dari deodorant ini? P-hydroxybenzoic acid esters (parabens) dan senyawa aluminum adalah bahan-bahan di dalam deodorant yang telah diinvestigasi memiliki peran untuk terjadinya kanker payudara.

Kita bahas terlebih dahulu hubungan antara parabens dengan kejadian kanker payudara. Jadi, parabens ini diserap kulit dan menyebabkan efek estrogen. Estrogen memiliki peran dalam meningkatkan perkembangan dari sel kanker payudara, sehingga beberapa peneliti menyatakan bahwa parabens dapat berkontribusi dalam perkembangan sel kanker payudara. Namun, penelitian ini masih tidak dapat membuktikan parabens dapat menyebabkan timbulnya tumor, karena dari penelitian tersebut tidak membandingkan jaringan payudara yang sehat atau dengan jaringan pada area tubuh lainnya, sehingga penelitian tersebut tidak dapat membuktikan bahwa parabens hanya terdapat pada jaringan payudara yang mengalami kanker saja. Jadi, kita tahu bahwa bahan parabens ini juga tidak menyebabkan kanker payudara ya….

Sedangkan senyawa aluminum dapat membentuk sumbatan sementara pada saluran keringat sehingga menghambat keluarnya keringat ke permukaan kulit. Berdasarkan beberapa penelitian, bahwa senyawa aluminum dapat mengubah DNA yang menyebabkan perubahan ekspresi gen, perubahan ini kita ketahui memiliki peran penting perkembangan sel kanker. Selain itu, pada penelitian selanjutnya dengan melakukan biopsi payudara menunjukkan kadar aluminum lebih tinggi di dalam jaringan payudara. Namun, pada tahun 2013 pernyataan tersebut dibantahkan dengan hasil penelitian yakni kadar aluminum pada jaringan payudara yang mengalami kanker dibandingankan dengan jaringan payudara yang sehat tidaklah berbeda. Jadi, kita tahu bahwa bahan aluminum pada deodorant tidak menyebabkan kanker payudara ya….

Pada tahun 2002, terdapat penelitian membahas tentang hubungan penggunaan deodorant dengan kejadian kanker payudara.  Namun, penelitian ini tidak menunjukkan risiko kanker payudara yang tinggi pada wanita yang menggunakan deodorant. Sama halnya dengan laporan pada tahun 2006, penelitian penggunaan deodorant pada 54 wanita dengan kanker payudara dan 50 wanita yang sehat, hasil penelitianya menunjukkan tidak ada hubungan antara penggunaan deodorant dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Jadi dapat kita simpulkan dari berbagai hasil penelitian dan studi, bahwa sampai saat ini masih belum ada penelitian yang valid yang menunjukkan penggunaan deodorant dengan kejadian kanker payudara. Dengan demikian, teman-teman semua tidak perlu cemas lagi ya dalam menggunakan deodorant.

… semoga bermanfaat…

Sumber:

Darbre, PD, Aljarrah A, Miller WR, Coldham NG, Sauer MJ, Pope GS. 2004. Concentrations of parabens in human breast tumours. J Appl Toxicol. Jan-Feb; 24(1):5-13.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Angka kejadian kanker payudara, http:/www.depkes.go.id/index.php/berita/pressrelease/170-angka-kejadian-kanker-payudara.html, diakses tanggal 23 Agustus 2016.

Hardefeldt, P.J; dkk. 2013. Deodorant Use and Breast Cancer Risk. Lippincott Williams & Wilkins.

National Cancer Institute (NIH). 2008. Antiperspirants/Deodorants and Breast Cancer. Tersedia pada: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/myths/antiperspirants-fact-sheet. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2016.

Rinastiti, Lintang. 2014. DIY Deodorant Spray. Tersedia pada http://randomandquick.blogspot.co.id/2014/10/diy-deodorant-spray.html. Diakses pada tanggal 23 Agustus 2016.

Soni MG, Burdock GA, Taylor SL, Greenberg NA. 2001. Safety assessment of propyl paraben: a review of the published literature. Food Chem Toxicol. Jun;39(6):513-32.

0