Edisi Oktober 2017

Kopi dan Kanker Faring

Staff Penelitian

KOMPAK FK UNUD

Kopi, salah satu minuman wajib untuk menemani sehari – hari, ketika sedang begadang mengerjakan tugas, bahkan seekedar bersantai di kafe. Selain nikmat, kopi ternyata memberikan banyak manfaat pada penikmatnya. Ternyata, kopi mengandung sejumlah antioksidan, polifenol dan berbagai senyawa biologis lainya yang mampu melindungi tubuh terhadap perkembangan sel kanker (Nkondjock, 2009). Berdasarkan beberapa penelitian, dilaporkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan anatara konsumsi kopi dan insiden kanker faring. Berbagai penelitian ini juga didukung dengan data bahwa konsumsi kopi harian secara relatif menurunkan resiko insiden kanker faring sebesar 35% hingga 40% (Galone dkk., 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hidlebrand, dengan mengonsumsi kopi, menurunkan risko kematian karena kanker sebesar 50%, baik wanita dan pria, bagi mereka yang mengonsumi kopi 4-6 cangkir kopi per hari, jika dibandingkan dengan tidak mengonsumi kopi (Hidlebrand, 2012). Namun hasil penelitian ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, konsumsi rokok dan alkohol. Karena sebaliknya, selain (Human Papiloma Virus) HPV, merokok dan mengonsumsi alkohol merupakan faktor risiko utama pada kanker oral/faring (American Cancer Society, 2012).

Kopi mengandung berbagai senyawa aktif biologis yang dapat menurunkan risiko perkembangan sel kanker. Di dalam kopi terdapat kefein, asam polifenol kafeik, dieterpenes, cafestol dan kahweol, yang telah diuji pada hewan dan secara in vitro berfungsi melindungi tubuh dari kerusakan DNA, mendorong apoptosis, dan memiliki aktivitas antiproliferasi (Bakuradze, 2010; Um, 2010).

Menurut salah satu penelitian, dilaporkan bahwa kandungan kafein pada kopi mampu merangsang dan menekan pertumbuhan tumor, bergantung pada tempat dan bagaimana administrasi kafein pada tubuh (Nkondjock, 2009). Cafestol, kahweal, dan dieterpenes yang terkandung di kopi juga memproduksi efek biologis yang berhubungan dengan antikarsnogenik, yaitu menginduksi enzim fase II untuk mendetoksifikasi karsinogen, dan secara spesifik menghambat aktivikasi karsinogen dan menstimulus mekanisme pertahanan intrasel oleh aktifitas enzim fase I (Huber dkk., 2003; Cavin dkk., 2008). Selain itu, kopi juga merupakan sumber penting asam kolinergik dan senyawa antioksida yang juga bersifat antikarsinogenik.

Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan kultur pada hewan, tidak teridentifikasi bagaimana mekanisme antikarsinogenik setelah diberikan kopi, melainkan terdapat ikatan spesifik antara senyawa yang terdapat dalam kopi dengan tubuh. Selain menurunkan risiko kanker faring, mengonsumsi kopi juga terbukti menurunkan risiko seseorang terhadap kanker hati, dinding rahim dan kanker usus besar (Bravi 2009; Galeone, 2010).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan mengonsumsi kopi dapat menurunkan risiko seseorang terhadap kanker faring. Namun perlu diperhatikan jumlah kopi yang dikonsumsi dalam setiap harinya. Karena jika berlebihan pula, kopi dapat menimbulkan beberapa masalah pada tubuh yaitu perubahan pola tidur, peningkatan tekanan darah, dan merubah warna gigi menjadi kekuningan. Mengonsumi kopi 2 cangkir setiap hari, secara signifikan dapat menurunkan risiko kanker faring.

Sekian, semoga bermanfaat…

Sumber:

American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2012. Atlanta, GA: American Cancer Society.

Bakuradze T, Lang R, Hofman. Antioxidant effectiveness of coffee extracts and selected constituents in cell-free systems and human colon cell lines. Mol Nutr Food Res. 54(12): 1734–1743.

Bravi F, Scotti L, Bosetti C, dkk. 2009. Coffee drinking and endometrial cancer risk: a metaanalysis of observational studies. Am J Obstet Gynecol. 200(2):130–135.

Cavin C, Marin-Kuan M,  Langouët, C. Bezençon, G. Guignard, C. Verguet, dkk. 2008. Induction of Nrf2-mediated cellular defences and alteration of phase I activities as mechanisms of chemoprotective effects of coffee in the liver, Food Chem. Toxicol. 46;1239–1248.

Galeone C, Tavani A, Pelucchi C, dkk. 2010. Coffee and tea intake and risk of head and neck cancer: pooled analysis in the International Head and Neck Cancer Epidemiology Consortium. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 19(7):1723–1736.

Galeone C, Turati F, La Vecchia C, dkk. 2010. Coffee consumption and risk of colorectal cancer: a meta-analysis of case-control studies. Cancer Causes Control. 21(11):1949–1959.

Hildebrand JS, Patel AV, McCullough ML, Gaudet MM, Chen AY, Hayes RB, dan Gapstur SM. 2013. Coffee, Tea, and Fatal Oral/Pharyngeal Cancer in a Large Prospective US Cohort. Am J Epidemiol. 177(1):50–5

Huber WW, Scharf G, Nagel G, Prustomersky S, Schulte-Hermann R, Kaina B. Coffee and its chemopreventive components Kahweol and Cafestol increase the activity of O6-methylguanine–DNA methyltransferase in rat liver – comparison with phase II xenobiotic metabolism, Mutat. Res. 522;57–68

Nkondjock A. 2009. Coffee consumption and the risk of cancer: an overview. Cancer Lett. 277(2):121–125.

Um HJ,  Oh JH, Kim YN, dkk. 2010. The coffee diterpene kahweol sensitizes TRAIL-induced apoptosis in renal carcinoma Caki cells through down-regulation of Bcl-2 and c-FLIP. Chem Biol Interact. 186(1):36–42.

0